-->

Riset Membuktikan: Video Game & Porno Hancurkan Anak Muda




Apakah terlalu sering menggunakan video game dan mengakses porno secara online benar-benar bisa menghancurkan orang? Yang jelas, selalu ada konsekuensi dari apa yang dilakukan seseorang.

Para peneliti mengatakan ya. Faktanya, makin banyak anak muda kecanduan gairah, mengorbankan sekolah dan hubungan demi mengejar gebrakan teknologi. Tiap penjudi kompulsif, pecandu alkohol atau obat akan mengaku ingin lebih dari video game atau minuman atau obat untuk mendapat apa yang diinginkannya.

Kecanduan video game dan porno adalah berbeda. Kecanduan ini adalah ‘kecanduan gairah’ pada daya tarik hal baru, variasi atau faktor konten yang mengejutkan. Kesamaan menjadi biasa dan hal baru meningkatkan kegembiraan. Sebaliknya, dalam gairah obat tradisional, pecandu ingin lebih dari kokain atau heroin atau makanan favorit yang sama.

Akibatnya bisa lebih dramatis, penggunaan video game dan porno online secara berlebihan bisa menciptakan generasi yang berisiko tak mampu menjelajahi kompleksitas dan risiko yang melekat pada hubungan kehidupan nyata, sekolah dan pekerjaan.

Cerita soal degenerasi ini sudah merajalela, pada 2005, Seungseob Lee asal Korea Selatan mengalami serangan jantung setelah bermain ‘StarCraft’ selama hampir 50 jam terus menerus.

Pada 2009, ‘True Live’ MTV menyorot kisah seorang pria bernama Adam yang diusir istrinya dari rumah karena tak bisa berhenti menonton porno. Selama persidangan, pembunuh massal Norwegia Anders Behring Breivik melakukan pembunuhan 77 orang dengan bermain ‘World of Warcraft’ selama satu tahun, kemudian ‘Call of Duty’ selama 16 jam sehari.

Pada 1954, peneliti Peter Milner dan James Olds menemukan pusat kesenangan otak. Dalam percobaan, arus listrik dikirim ke sistem limbik otak yang mengatur emosi, perilaku dan memori tikus. Hipotesanya, jika stimulasi ke sistem limbik menyenangkan, tikus akan tinggal jauh di bagian kandang.

Pada percobaan kemudian, tikus ini dirangsang ratusan kali per jam. Bahkan saat diberi pilihan makan saat lapar atau untuk merangsang pusat kesenangan, tikus memilih rangsangan tersebut hingga secara fisik lelah dan berada di ambang kematian.

Jenis gairah baru manusia ini menjebak pengguna ke zona waktu hedonistik. Masa lampau dan masa depan dan masa kini memperluas dominasi segalanya. Adegan ini benar-benar dinamis, dengan gambar yang terus-menerus berubah.

Hasil studi terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan, “Pengguna porno biasa cenderung mengalami depresi dan kondisi fisik buruk dibanding bukan pengakses. Alasannya, porno dapat memulai siklus isolasi dan menjadi pengganti interaksi tatap muka, sosial atau seksual yang sehat.”

Serupa, video game membuat orang tak peka dengan realitas dan kehidupan nyata dalam interaksi dengan orang lain. Kekerasan dalam video game sering diidentikkan dengan kesuksesan. Anak yang kecenderungan agresi lebih tertarik pada media video kekerasan yang pada gilirannya juga membuat mereka lebih agresif.

Hal ini bisa dikaitkan fakta video game membuat gamer cenderung melakukan kekerasan. Hasil riset Annual Review of Public Health juga menunjukkan, video game bisa membuat anak atau dewasa menjadi lebih agresif setelah memainkannya.

Kasus kurang ekstrim dari kecanduan gairah ini adalah, gangguan suasana hati. Sudah saatnya mulai membalikkan tren ini.


LihatTutupKomentar